GOW Lombok Timur Studi Tiru ke GOW Wonosobo: Berbagi Praktik Baik untuk Percepatan Penanganan Stunting dan Pemberdayaan Perempuan



Dra. Hj. Maya Rosida, M.M
Dra. Hj. Maya Rosida, M.M Ketua Umum GOW


Wonosobo 19 Oktober 2026 – Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Wonosobo menerima kunjungan studi tiru dari GOW Kabupaten Lombok Timur dalam rangka memperkuat sinergi dan berbagi pengalaman terkait program pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, percepatan penanganan stunting, serta penguatan kemandirian perempuan sebagai fondasi kesejahteraan keluarga dan masyarakat.

Kunjungan yang berlangsung hangat dan penuh semangat kolaborasi tersebut menjadi sarana untuk saling bertukar gagasan, pengalaman, serta praktik-praktik baik yang telah dijalankan masing-masing daerah dalam mendukung pembangunan perempuan dan perlindungan anak.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum GOW Wonosobo, Dra. Hj. Maya Rosida, M.M., menyampaikan selayang pandang mengenai perjalanan dan kiprah GOW Wonosobo. Beliau mengungkapkan rasa syukur dan apresiasi yang tinggi kepada Pemerintah Kabupaten Wonosobo yang selama ini memberikan dukungan terhadap berbagai program dan kegiatan GOW.

Menurut Maya Rosida, keberhasilan berbagai program yang dijalankan GOW tidak terlepas dari sinergi yang baik antara pemerintah daerah, organisasi perempuan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

"GOW Wonosobo terus berupaya menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun kualitas keluarga dan masyarakat. Dukungan pemerintah daerah menjadi energi besar bagi kami untuk terus menghadirkan program-program yang menyentuh kebutuhan perempuan dan anak secara nyata," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa GOW Wonosobo tidak hanya berfokus pada kegiatan seremonial, tetapi juga mengembangkan sejumlah unit kerja yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Salah satunya adalah UPIPA (Unit Perlindungan Ibu dan Anak) yang memberikan pendampingan dan perlindungan bagi perempuan serta anak yang membutuhkan dukungan dan penanganan.

Selain itu, GOW Wonosobo juga mengelola PAUD Al Jami' sebagai bentuk kontribusi dalam pembangunan sumber daya manusia sejak usia dini. Melalui pendidikan anak usia dini yang berkualitas, diharapkan lahir generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter.

Tidak kalah penting, GOW juga mengembangkan Koperasi Pramesti sebagai wadah penguatan ekonomi perempuan. Melalui koperasi tersebut, anggota didorong untuk meningkatkan kapasitas ekonomi, memperkuat kemandirian, serta membangun ketahanan keluarga.

Maya Rosida menegaskan bahwa kemandirian perempuan merupakan salah satu kunci utama dalam menciptakan keluarga yang sejahtera. Perempuan yang berdaya dan mandiri akan memiliki kemampuan lebih besar dalam mendukung pendidikan anak, menjaga kesehatan keluarga, serta berkontribusi terhadap pembangunan daerah.

Sementara itu, Bupati Wonosobo dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terjalinnya hubungan dan kerja sama antardaerah melalui kegiatan studi tiru tersebut. Menurutnya, tantangan pembangunan saat ini memerlukan kolaborasi yang kuat, terutama dalam upaya menurunkan angka stunting, meningkatkan kualitas hidup perempuan dan anak, serta memperkuat ketahanan keluarga.

Bupati berharap kunjungan ini menjadi momentum untuk saling belajar dan menginspirasi, sehingga berbagai inovasi dan program yang telah berhasil dijalankan dapat diadaptasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah.

"Perempuan memiliki peran yang sangat strategis dalam pembangunan. Karena itu, pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, dan penguatan ekonomi keluarga harus terus menjadi perhatian bersama. Melalui forum seperti ini, kita dapat memperluas jejaring serta memperkuat komitmen untuk menghadirkan kesejahteraan yang lebih merata bagi masyarakat," ungkapnya.

Di sisi lain, Ketua GOW Kabupaten Lombok Timur menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas sambutan hangat yang diberikan oleh GOW Wonosobo beserta Pemerintah Kabupaten Wonosobo. Ia mengaku banyak mendapatkan inspirasi dari berbagai program yang telah dikembangkan GOW Wonosobo, khususnya dalam membangun lembaga yang berkelanjutan dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Menurutnya, keberadaan unit-unit kerja seperti UPIPA, PAUD Al Jami', dan Koperasi Pramesti menunjukkan bahwa organisasi perempuan dapat menjadi motor penggerak perubahan sosial sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat.

"Kami melihat banyak praktik baik yang dapat menjadi referensi untuk dikembangkan di Lombok Timur. Semoga kunjungan ini menjadi langkah awal terbangunnya komunikasi dan kerja sama yang lebih erat di masa mendatang," tuturnya.

Melalui kegiatan studi tiru ini, kedua organisasi berharap dapat memperkuat jejaring, meningkatkan kapasitas kelembagaan, serta mendorong lahirnya berbagai inovasi yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan perempuan, anak, dan keluarga. Semangat berbagi pengalaman dan saling belajar menjadi bukti bahwa pembangunan yang inklusif dapat diwujudkan melalui kolaborasi dan komitmen bersama.

"Ketika perempuan berdaya, keluarga menjadi kuat. Ketika keluarga kuat, maka masyarakat dan daerah akan semakin sejahtera." Sebuah semangat yang menjadi benang merah dalam pertemuan dua organisasi perempuan tersebut untuk terus bergerak bersama membangun masa depan yang lebih baik"

Jembatan yang Tak Boleh Terputus: Mengapa Komunikasi adalah Kunci Utama Menjaga Relasi

 

UPIPA GOW Wonosobo
Pentingnya membangun Komunikasi yang baik


Dalam setiap bentuk hubungan—baik itu dengan pasangan, keluarga, sahabat, maupun rekan kerja—ada satu fondasi tak kasat mata yang menentukan kokoh atau rapuhnya relasi tersebut: komunikasi.

Banyak orang menganggap komunikasi hanya sebatas bertukar kata-kata atau pesan singkat. Namun, dalam konteks menjaga hubungan, komunikasi jauh lebih luas dari sekadar bicara; komunikasi adalah seni memahami, mendengarkan, dan menyampaikan rasa saling menghargai.

Mengapa membangun komunikasi begitu krusial dalam menjaga keberlangsungan sebuah relasi? Mari kita bedah alasannya.

1. Mencegah dan Menyelesaikan Kesalahpahaman

Sebagian besar konflik dalam hubungan lahir dari asumsi dan ekspresi yang tidak tersampaikan. Ketika komunikasi tersumbat, pikiran manusia cenderung mengisi kekosongan tersebut dengan dugaan-dugaan negatif.

  • Pentingnya Keterbukaan: Dengan membiasakan diri membicarakan sesuatu secara terbuka (open communication), kita memberi ruang bagi fakta untuk menggantikan prasangka.

  • Diskusi, Bukan Konfrontasi: Komunikasi yang sehat mengubah perbedaan pendapat dari perdebatan yang saling menyalahkan menjadi diskusi untuk mencari jalan keluar bersama.

2. Membangun dan Memelihara Kepercayaan (Trust)

Kepercayaan tidak tumbuh dalam sehari, dan ia membutuhkan pemeliharaan yang konsisten. Komunikasi yang jujur, transparan, dan konsisten adalah bahan bakar utama untuk memupuk kepercayaan.

Ketika seseorang merasa bisa mengungkapkan isi hati dan pikirannya tanpa takut dihakimi atau diabaikan, rasa aman (psychological safety) akan terbentuk. Dari rasa aman inilah rasa percaya tumbuh makin kuat.

3. Menguatkan Ikatan Emosional (Emotional Connection)

Relasi yang bertahan lama bukan hanya tentang saling mengenal, melainkan tentang saling terhubung. Komunikasi mendalam (deep talk) memungkinkan dua individu untuk:

  • Saling berbagi nilai-nilai hidup, mimpi, dan kekhawatiran.

  • Memahami bahasa kasih (love language) dan kebutuhan emosional satu sama lain.

  • Menumbuhkan rasa empati saat salah satu pihak sedang berada di titik terendah.

Tanpa komunikasi emosional yang rutin, relasi lama-kelamaan akan terasa hampa dan hanya sebatas formalitas belaka.

4. Menumbuhkan Rasa Dihargai dan Diakui

Salah satu kebutuhan dasar manusia dalam berelasi adalah ingin didengar dan diakui. Ketika kita meluangkan waktu untuk mendengarkan pasangan, teman, atau rekan kerja dengan sungguh-sungguh (active listening), secara tidak langsung kita menyampaikan pesan: "Kamu penting, dan apa yang kamu rasakan bermakna bagiku."

Pilar Utama Komunikasi yang Efektif

Membangun komunikasi tidak selalu berarti "banyak bicara". Komunikasi yang efektif membutuhkan keseimbangan antara aspek-aspek berikut:

  1. Mendengarkan secara Aktif (Active Listening): Mendengarkan untuk memahami, bukan sekadar menunggu giliran untuk membalas atau membela diri.

  2. Empati: Mencoba melihat situasi dari sudut pandang lawan bicara sebelum mengambil kesimpulan.

  3. Bahasa Tubuh dan Nada Bicara: Kontak mata, ekspresi wajah, serta nada suara sering kali menyampaikan pesan yang lebih kuat daripada kata-kata itu sendiri.

  4. Keberanian untuk Jujur dan Rentan (Vulnerability): Berani menyampaikan apa yang dirasakan secara jujur tanpa bersikap defensif atau agresif.

Kesimpulan

Sebuah relasi mirip seperti tanaman yang membutuhkan air dan sinar matahari; tanpa perawatan rutin, ia akan layu dan mati. Komunikasi adalah bentuk perawatan harian tersebut.

Jangan biarkan jarak, kesibukan, atau gengsi merusak hubungan yang bernilai dalam hidup Anda. Mulailah membuka ruang untuk bicara, dan yang terpenting, sediakan hati untuk mendengarkan.

Agar Anak Mau Bercerita: Tips Mendidik Anak Menjadi Pribadi yang Terbuka dan Berani Ekspresif

Cara Mendidik Anak Agar Terbuka: Jangan Biarkan Anak Memendam Perasaan dan Menderita Sendiri

Upipa Gow Wonosobo
UPIPA GOW Wonosobo


Pernahkah Anda melihat anak tiba-tiba menjadi pendiam, mudah marah, atau menarik diri dari lingkungan? Sebagai orang tua, salah satu kekhawatiran terbesar adalah ketika anak memendam perasaan dan menyimpan penderitaannya sendirian tanpa mau bercerita.

Ketika anak merasa tidak punya tempat aman untuk berbagi, emosi negatif yang terpendam dapat berdampak pada kesehatan mental, rasa percaya diri, hingga tumbuh kembangnya. Lalu, bagaimana cara mendidik anak agar mau bercerita dan tumbuh menjadi pribadi yang jujur pada emosinya?

Simak panduan parenting dan tips pengasuhan berikut ini untuk membantu anak Anda menjadi pribadi yang terbuka.

Mengapa Anak Memilih Memendam Perasaan?

Sebelum mencari solusi, penting bagi orang tua untuk memahami alasan di balik sikap anak yang tertutup. Umumnya, anak takut bercerita karena:

Takut Dimarahi atau Disalahkan: Anak khawatir respons orang tua akan emosional atau memberikan hukuman.

Pernah Diabaikan: Curahan hati atau keluhan anak di masa lalu pernah dianggap sepele ("Ah, gitu aja menangis!").

Bingung Mengenali Emosi: Anak belum memiliki kosakata yang cukup untuk menjelaskan apa yang sedang ia rasakan (emotion labeling).

Tips Mendidik Anak Agar Berani Bercerita dan Terbuka

1. Buat Ruang Aman Tanpa Penghakiman (Safe Space)

Langkah pertama agar anak mau terbuka adalah memastikan bahwa rumah dan orang tua adalah tempat teraman bagi mereka. Saat anak mulai mengungkapkan perasaannya, dengarkan tanpa memotong, memarahi, atau langsung menghakimi.

Prinsip penting: Tunjukkan bahwa semua perasaan (marah, sedih, kecewa) adalah hal yang wajar dan boleh dirasakan.

2. Ajarkan Validasi Emosi sejak Dini

Bantu anak mengenali dan memberi nama pada emosi yang dirasakannya. Daripada melarang anak menangis, validasi emosinya terlebih dahulu.

Gunakan kalimat seperti: "Ibu tahu kamu sedang sedih karena mainanmu rusak, ya?" atau "Kelihatan hari ini di sekolah cukup berat, mau cerita ke Ayah?"

Ketika emosi anak divalidasi, ia merasa dimengerti dan merasa aman untuk bercerita lebih lanjut.

3. Hindari Langsung Memberikan Solusi atau Menghakimi

Saat anak menceritakan penderitaan atau masalahnya, reflek orang tua sering kali ingin langsung memberi nasihat atau menyelesaikan masalah tersebut. Padahal, sering kali anak hanya butuh didekap dan didengarkan.

Tanya terlebih dahulu: "Kamu mau Ibu bantu cari solusi, atau hanya mau cerita aja?"

4. Luangkan Waktu Khusus Tanpa Distraksi (Quality Time)

Keterbukaan butuh ikatan emosional (bonding) yang kuat. Sisihkan waktu setidaknya 15–30 menit sehari untuk berbincang secara intim tanpa gawai (smartphone) atau gangguan pekerjaan. Cerita sebelum tidur (bedtime story/talk) sering kali menjadi momen paling efektif bagi anak untuk mencurahkan isi hatinya.

5. Berikan Contoh Keterbukaan dari Orang Tua

Anak adalah peniru yang handal. Jika orang tua selalu menyembunyikan emosi dan berakting "selalu sempurna", anak juga akan belajar untuk memendam perasaannya. Cobalah bersikap jujur secara bijak di depan anak, misalnya: "Hari ini pekerjaan Ayah agak menumpuk, jadi Ayah merasa sedikit lelah." Ini mengajarkan anak bahwa mengekspresikan perasaan adalah hal yang sehat.

Manfaat Memiliki Anak yang Terbuka pada Orang Tua

Mendidik anak agar berani menceritakan dirinya memberikan banyak dampak positif jangka panjang, di antaranya:

Kesehatan Mental yang Lebih Baik: Anak terhindar dari stres berat dan kecemasan akibat memendam trauma atau penderitaan.

Terhindar dari Bullying: Anak yang terbuka akan langsung bercerita jika mengalami perundungan di sekolah atau lingkungan sekitarnya.

Kemampuan Regulasi Emosi yang Tinggi: Anak lebih dewasa dalam mengelola konflik saat tumbuh remaja hingga dewasa.

Kesimpulan

Mendidik anak agar menjadi pribadi yang terbuka dan tidak memendam penderitaannya sendiri bukanlah proses instan. Hal ini membutuhkan kesabaran, empati, dan konsistensi dari orang tua. Mari mulai menjadi pendengar yang baik untuk setiap cerita kecil mereka hari ini, agar mereka percaya bahwa mereka tidak pernah sendirian menghadapi dunia.

cara mendidik anak terbuka, anak memendam perasaan, tips mendidik anak mau bercerita, kesehatan mental anak, komunikasi efektif orang tua dan anak, cara agar anak mau bercerita.

Bingung menghadapi anak yang suka memendam perasaan? Simak tips parenting lengkap cara mendidik anak agar mau bercerita dan tidak menderita sendiri di sini!

Langkah Nyata Memutus Rantai Kekerasan, LAPORKAN!!

Unit Pelayanan Informasi Perempuan dan Anak


Pentingnya Melapor Jika Melihat Kekerasan Terhadap Perempuan: Langkah Nyata Memutus Rantai Kekerasan

Kekerasan terhadap perempuan, baik berupa kekerasan fisik, psikis, seksual, maupun penelantaran ekonomi, merupakan bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang serius. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh korban secara pribadi, tetapi juga memengaruhi tatanan sosial masyarakat secara luas.

Sayangnya, banyak kasus kekerasan terhadap perempuan yang tidak terungkap. Rasa takut, ancaman pelaku, serta stigma negatif masyarakat kerap membuat korban maupun saksi memilih untuk bungkam.

Padahal, keberanian untuk melapor adalah langkah awal paling krusial untuk menyelamatkan nyawa dan menghentikan tindak kekerasan.

5 Alasan Utama Mengapa Melapor Kekerasan Itu Sangat Penting

1. Memastikan Keselamatan dan Perlindungan Korban

Melaporkan tindak kekerasan memungkinkan korban mendapatkan penanganan cepat, akses ke rumah aman (safe house), serta perlindungan hukum dari ancaman pelaku.

2. Membantu Proses Pemulihan Trauma dan Bukti Hukum

Laporan awal mempermudah pendokumentasian bukti secara sah, seperti visum et repertum. Selain itu, korban dapat segera menerima layanan konseling psikologis untuk memulihkan trauma.

3. Memberikan Efek Jera Bagi Pelaku

Kekerasan yang dibiarkan tanpa tindakan tegas akan membuat pelaku merasa aman dan berpotensi mengulangi perbuatannya. Pelaporan memastikan adanya proses hukum yang adil.

4. Mencegah Adanya Korban Baru

Sebagian besar pelaku kekerasan memiliki pola kebiasaan mengulang tindakan mereka. Dengan melapor, Anda ikut melindungi perempuan lain di sekitar dari potensi ancaman serupa.

5. Mengikis Stigma Sosial (Victim Blaming)

  • Bersuara dan melaporkan kekerasan membantu mengubah pandangan masyarakat bahwa korban bukanlah pihak yang bersalah. Ini menegaskan bahwa segala bentuk kekerasan tidak dapat ditoleransi.
  • Apa yang Harus Dilakukan Jika Melihat Kekerasan di Sekitar Anda?
  • Jika Anda menjadi saksi atau mengetahui adanya tindakan kekerasan terhadap perempuan, lakukan langkah-langkah berikut:
  • Dengarkan tanpa menghakimi: Berikan rasa aman dan percaya pada cerita korban.
  • Amankan bukti pendukung: Simpan bukti percakapan, foto luka/kerusakan, atau catatan tanggal dan lokasi kejadian jika memungkinkan.
  • Hubungi lembaga layanan pengaduan: Dampingi korban untuk menghubungi pihak berwenang atau lembaga pendamping masyarakat.

Layanan Pengaduan Kekerasan Terhadap Perempuan di Wonosobo (UPIPA)

Bagi warga Kabupaten Wonosobo dan sekitarnya yang mengalami, melihat, atau membutuhkan informasi terkait penanganan kekerasan terhadap perempuan, Anda dapat langsung menghubungi UPIPA (Unit Pengaduan dan Informasi Perlindungan Perempuan dan Anak).


Nama Lembaga: UPIPA (Unit Pengaduan dan Informasi Perlindungan Perempuan dan Anak)

Alamat Kantor: Jl. Merdeka No. 08, Wonosobo, Jawa Tengah

Kontak Pengaduan / WhatsApp: 0812-3754-0060

Layanan yang Disediakan: Penerimaan laporan pengaduan, informasi perlindungan, serta pendampingan bagi perempuan korban kekerasan. (Gratis)

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

Apakah identitas pelapor kekerasan akan dirahasiakan?

Ya, lembaga penyedia layanan seperti UPIPA menjaga kerahasiaan identitas korban maupun pelapor demi menjamin keselamatan dan kenyamanan.

Apakah melapor kekerasan dikenakan biaya?

Tidak. Layanan pengaduan dan pendampingan di lembaga resmi seperti UPIPA disediakan untuk membantu masyarakat tanpa dipungut biaya.

Kesimpulan: Jangan biarkan kekerasan terjadi di depan mata kita. Berani melapor berarti menyelamatkan kehidupan. Hubungi UPIPA Wonosobo di nomor 0812-3754-0060 atau datang langsung ke Jl. Merdeka No. 08 Wonosobo untuk mendapatkan bantuan.


Penerimaan aduan online UPIPA GOW Wonosobo

Jika responnya lama bisa WA Ke : 081237540060 (Iang)

Syarat Pengajuan Dispensasi Kawin Terbaru: Panduan Lengkap & Prosedurnya



Berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019, batas usia minimal untuk melangsungkan pernikahan di Indonesia adalah 19 tahun baik bagi pria maupun wanita.

Namun, dalam kondisi atau alasan yang sangat mendesak, orang tua/wali calon pengantin dapat mengajukan Dispensasi Kawin ke Pengadilan (Pengadilan Agama bagi yang beragama Islam dan Pengadilan Negeri bagi non-Muslim).

Agar proses pengajuan berjalan lancar dan dikabulkan oleh Hakim, simak syarat administrasi, prosedur, hingga tips pengajuan dispensasi nikah berikut ini.

Apa Itu Dispensasi Kawin?

Dispensasi Kawin adalah pemberian izin pernikahan oleh pengadilan kepada calon mempelai yang usianya belum mencapai 19 tahun.

Permohonan ini diatur secara ketat dalam Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) Nomor 5 Tahun 2019 tentang Pedoman Mengadili Permohonan Dispensasi Kawin untuk memastikan perlindungan hak-hak anak tetap terpenuhi.

Persyaratan Pengajuan Dispensasi Kawin Lengkap

Dokumen administrasi yang harus disiapkan sebelum datang ke Pengadilan antara lain:

1. Dokumen Utama (Wajib)

  • Surat Permohonan Dispensasi Kawin (ditujukan kepada Ketua Pengadilan Agama/Negeri).

  • Surat Penolakan dari KUA / Catatan Sipil (Surat Model N5/N9) yang menyatakan bahwa pernikahan ditolak karena masalah usia.

  • Fotokopi KTP kedua Orang Tua / Wali.

  • Fotokopi Kartu Keluarga (KK) Pemohon.

  • Fotokopi Akta Kelahiran / KTP / KIA kedua calon pengantin.

  • Fotokopi Ijazah Terakhir atau Surat Keterangan Masih Sekolah dari calon mempelai.

2. Dokumen Pendukung (Rekomendasi Hakim)

  • Surat Keterangan Kesehatan / Kesehatan Reproduksi dari Dokter, Puskesmas, atau Rumah Sakit.

  • Surat Rekomendasi dari Psikolog / P2TP2A / Dinas Sosial / KPAI setempat yang menyatakan kesiapan mental anak.

  • Surat Keterangan Penghasilan calon mempelai pria (jika sudah bekerja).

  • Surat Pertanggungjawaban/Komitmen Orang Tua untuk mendampingi aspek ekonomi, sosial, dan pendidikan anak.

Catatan Penting: Semua dokumen fotokopi wajib ditempeli meterai Rp10.000 dan dilegalisasi di Kantor Pos (Nazegelen).

Prosedur dan Alur Pengajuan Dispensasi Nikah

TahapanKeterangan
1. PendaftaranPemohon (orang tua/wali) datang ke PTSP Pengadilan Agama/Negeri membawa dokumen.
2. Pembayaran PanjarMembayar panjar biaya perkara sesuai penetapan pengadilan.
3. PersidanganHakim memeriksa alasan mendesak, kesiapan fisik, psikologis, dan ekonomi calon pengantin.
4. PenetapanHakim membacakan putusan/penetapan dikabulkan atau ditolaknya permohonan.

Alasan Mendesak yang Dipertimbangkan Hakim

Hakim tidak serta-merta mengabulkan permohonan. Beberapa alasan yang umumnya dipertimbangkan meliputi:

  1. Adanya hubungan yang sudah sangat erat dan dikhawatirkan melanggar norma agama/hukum.

  2. Kondisi khusus (seperti kehamilan di luar nikah).

  3. Kesiapan finansial dan dukungan penuh dari kedua keluarga.

FAQ (Sering Ditanyakan)

1. Berapa lama proses persidangan dispensasi nikah?

Proses persidangan biasanya berlangsung cepat, umumnya memakan waktu sekitar 1 hingga 3 minggu tergantung kelengkapan berkas dan kehadiran para pihak.

2. Siapa yang harus mengajukan permohonan dispensasi kawin?

Permohonan harus dilakukan oleh orang tua atau wali dari anak yang usianya belum genap 19 tahun, bukan oleh anak itu sendiri.

3. Berapa biaya pengajuan dispensasi kawin?

Biaya panjar perkara bervariasi tergantung radius domisili pemohon, biasanya berkisar antara Rp300.000 hingga Rp800.000 (dapat gratis jika memanfaatkan layanan Prodeo bagi keluarga tidak mampu).

Kesimpulan

Pengajuan dispensasi kawin membutuhkan persiapan berkas yang rinci dan alasan yang benar-benar mendesak demi kepentingan terbaik sang anak. Pastikan semua persyaratan fisik maupun rekomendasi medis/psikologis telah dilengkapi agar proses di pengadilan dapat berjalan dengan lancar

Maya Rosida Kunjungi Kebun Durian Mbah Manten, Ajak Perempuan Wonosobo Mandiri

 

Dra. Hj. Maya Rosida, M.M

SELOMERTO, WONOSOBO  14/10/26 — Suasana asri dan penuh kehangatan mewarnai kegiatan silaturahmi warga di Dusun Keseneng, Desa Sinduagung, Kecamatan Selomerto, Kabupaten Wonosobo. Bertempat di area Kebun Durian Mbah Manten yang rindang, acara perkumpulan tersebut terasa makin istimewa dengan hadirnya Wakil Bupati Wonosobo periode 2010–2015 sekaligus Ketua Umum Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Wonosobo, Dra. Hj. Maya Rosida, M.M.

Dalam kesempatan tersebut, Maya Rosida didaulat untuk memberikan sambutan serta motivasi di hadapan masyarakat dan para anggota organisasi yang hadir.

Pentingnya Kemandirian dan Pemanfaatan Peluang

Dalam arahannya, sosok pemimpin perempuan yang dikenal ramah ini menyoroti pentingnya peran perempuan dalam pembangunan keluarga maupun masyarakat. Menurut Maya Rosida, perempuan masa kini harus mampu tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, cerdas membaca peluang, dan tangguh dalam menghadapi tantangan zaman.

"Menjadi perempuan itu harus mandiri dan pandai memanfaatkan setiap kesempatan yang ada. Apapun potensi yang kita miliki, sekecil apa pun itu, manfaatkanlah sebaik-baiknya agar bisa membawa keberkahan dan kemanfaatan bagi diri sendiri, keluarga, serta masyarakat sekitar," tutur Dra. Hj. Maya Rosida, M.M. dalam sambutannya.

Beliau juga menambahkan bahwa kemandirian perempuan bukan berarti mengesampingkan kodrat, melainkan tentang bagaimana perempuan mampu berdaya, berdikari secara ekonomi maupun sosial, serta menjadi pilar penguat bagi lingkungan sekitarnya.

Kebun Durian Mbah Manten: Simbol Potensi Lokal yang Berdaya

Dipilihnya lokasi pertemuan di Kebun Durian Mbah Manten, Dusun Keseneng, menjadi contoh nyata dari apa yang disampaikan oleh Maya Rosida. Dusun Keseneng di Desa Sinduagung selama ini dikenal sebagai salah satu sentra penghasil durian lokal berkualitas di Wonosobo.

Keberadaan Kebun Durian Mbah Manten yang kini dikembangkan menjadi destinasi agrowisata dan ruang kumpul warga merupakan bukti nyata bagaimana potensi alam lokal dapat dimaksimalkan untuk menggerakkan perekonomian desa.

Melalui kegiatan ini, diharapkan motivasi yang disampaikan oleh Ketua Umum GOW Wonosobo tersebut dapat memantik semangat kaum perempuan di Kecamatan Selomerto dan sekitarnya untuk terus berinovasi, memanfaatkan potensi lokal, serta menebar manfaat bagi sesama.

#Maya Rosida Wonosobo, #Kebun Durian Mbah Manten, #Dusun Keseneng Sinduagung, #GOW Wonosobo, #Perempuan Mandiri Wonosobo.

GOW WONOSOBO SOSIALISASIKAN PENTINGNYA KESEHATAN MENTAL DI SEKOLAH

 

 

Wonosobo, 13 Oktober 2026 - Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Wonosobo terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung tumbuh kembang anak melalui kegiatan Sosialisasi Kesehatan Mental di Sekolah yang dirangkai dengan penyaluran bantuan pendidikan dari Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA) Wonosobo. Kegiatan ini menyasar 70 siswa sekolah dasar dari 10 SD di Kabupaten Wonosobo yang membutuhkan dukungan pendidikan dan perhatian bersama.

Program ini hadir sebagai wujud kepedulian terhadap kesehatan mental anak yang menjadi fondasi penting dalam proses belajar, pembentukan karakter, dan kesiapan menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang begitu cepat, anak-anak membutuhkan lingkungan yang mendukung kesehatan mental agar dapat tumbuh menjadi generasi yang percaya diri, tangguh, dan berprestasi.

Ketua Umum GOW Kabupaten Wonosobo, Dra. Hj. Maya Rosida, M.M, menyampaikan bahwa perhatian terhadap kesehatan mental anak harus menjadi tanggung jawab bersama, baik oleh keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

"Kesehatan mental yang baik akan membantu anak-anak tumbuh dengan bahagia, memiliki rasa percaya diri, mampu berinteraksi dengan lingkungan secara positif, serta memiliki semangat untuk meraih cita-citanya. Oleh karena itu, kita semua harus hadir untuk mendampingi mereka, mendengarkan mereka, dan memberikan ruang yang aman untuk bertumbuh," ujarnya.

Selain kegiatan sosialisasi, bantuan pendidikan dari GNOTA Wonosobo diserahkan kepada 70 siswa dari 10 sekolah dasar sebagai bentuk dukungan nyata agar mereka dapat terus belajar dengan semangat dan optimisme.

Dalam kesempatan tersebut, Dra. Hj. Maya Rosida, M.M menyampaikan pesan yang menyentuh kepada para siswa penerima bantuan.

"Anak-anakku yang kami cintai, jangan pernah merasa sendiri dalam menggapai mimpi. Mungkin hari ini kalian menghadapi keterbatasan, tetapi ketahuilah bahwa banyak orang yang peduli dan percaya kepada kalian. Bantuan ini bukan hanya tentang materi, tetapi tentang harapan. Kami ingin kalian tetap bersekolah, terus belajar, dan berani bermimpi setinggi mungkin."

Beliau juga mengajak para orang tua dan guru untuk senantiasa memberikan dukungan emosional kepada anak-anak.

"Sering kali anak-anak tidak membutuhkan jawaban yang sempurna. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan, memahami perasaannya, dan meyakinkan bahwa mereka dicintai. Dari rumah dan sekolah yang penuh kasih sayang, akan lahir generasi yang kuat secara mental dan mulia akhlaknya."

Melalui kegiatan ini, GOW Kabupaten Wonosobo berharap semakin meningkat kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan mental anak sekaligus memperkuat semangat gotong royong dalam mendukung pendidikan bagi generasi penerus bangsa.

Program ini juga menjadi pengingat bahwa membangun masa depan anak tidak hanya melalui pemenuhan kebutuhan pendidikan semata, tetapi juga melalui perhatian terhadap kesehatan mental, rasa aman, dan kasih sayang yang mereka terima setiap hari.

"Setiap anak berhak memiliki harapan, kesempatan, dan masa depan yang cerah. Ketika kita membantu satu anak untuk terus melangkah, sesungguhnya kita sedang menyiapkan masa depan bangsa yang lebih baik," tutup Dra. Hj. Maya Rosida, M.M.




Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Wonosobo terus berkomitmen mendukung terwujudnya keluarga yang berkualitas, perempuan yang berdaya, serta generasi muda yang sehat, cerdas, dan berkarakter melalui berbagai program sosial, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.

#GOW Wonosobo #Maya Rosida

Diberdayakan oleh Blogger.
 
 
Copyright © 2013 UPIPA GOW WONOSOBO - All Rights Reserved
Design By QVAA VEER KHAN - Powered By Blogger