![]() |
| Sumpah Pemuda 2026 |
Setiap kali bangsa Indonesia memperingati Sumpah Pemuda, perhatian sering tertuju pada tiga ikrar monumental: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Namun di balik narasi besar persatuan itu, ada satu pertanyaan penting yang layak diajukan: sejauh mana perempuan telah menjadi bagian dari perjalanan mewujudkan cita-cita Sumpah Pemuda?
Pada usia ke-98 tahun, Sumpah Pemuda bukan lagi sekadar dokumen sejarah. Ia adalah panggilan untuk terus memperjuangkan Indonesia yang lebih adil, inklusif, dan bermartabat. Dari perspektif pergerakan perempuan, semangat Sumpah Pemuda tidak hanya berbicara tentang persatuan bangsa, tetapi juga tentang perjuangan menghapus berbagai bentuk ketidakadilan yang menghambat sebagian anak bangsa untuk maju.
Pada usia ke-98 tahun, Sumpah Pemuda bukan lagi sekadar dokumen sejarah. Ia adalah panggilan untuk terus memperjuangkan Indonesia yang lebih adil, inklusif, dan bermartabat. Dari perspektif pergerakan perempuan, semangat Sumpah Pemuda tidak hanya berbicara tentang persatuan bangsa, tetapi juga tentang perjuangan menghapus berbagai bentuk ketidakadilan yang menghambat sebagian anak bangsa untuk maju.
Ketika Persatuan Masih Menjadi Mimpi
Tahun 1928 adalah masa ketika Indonesia belum merdeka. Pemuda dari berbagai daerah berani menembus sekat suku, bahasa, dan identitas kedaerahan untuk menyatakan bahwa mereka adalah satu bangsa. Keberanian itu menjadi fondasi lahirnya Indonesia modern.
Namun pada saat yang sama, perempuan Indonesia juga sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas. Ruang publik didominasi laki-laki. Banyak perempuan belum memiliki akses yang setara dalam menentukan masa depannya sendiri.
Karena itu, perjuangan perempuan pada masa tersebut sesungguhnya merupakan bagian tak terpisahkan dari perjuangan kebangsaan. Mereka memperjuangkan hak belajar, hak berorganisasi, serta hak berkontribusi dalam pembangunan masyarakat. Mereka memahami bahwa bangsa yang maju tidak mungkin lahir dari setengah masyarakat yang tertinggal.
Tahun 1928 adalah masa ketika Indonesia belum merdeka. Pemuda dari berbagai daerah berani menembus sekat suku, bahasa, dan identitas kedaerahan untuk menyatakan bahwa mereka adalah satu bangsa. Keberanian itu menjadi fondasi lahirnya Indonesia modern.
Namun pada saat yang sama, perempuan Indonesia juga sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas. Ruang publik didominasi laki-laki. Banyak perempuan belum memiliki akses yang setara dalam menentukan masa depannya sendiri.
Karena itu, perjuangan perempuan pada masa tersebut sesungguhnya merupakan bagian tak terpisahkan dari perjuangan kebangsaan. Mereka memperjuangkan hak belajar, hak berorganisasi, serta hak berkontribusi dalam pembangunan masyarakat. Mereka memahami bahwa bangsa yang maju tidak mungkin lahir dari setengah masyarakat yang tertinggal.
Perempuan Tidak Sekadar Mengikuti Sejarah, Tetapi Menciptakan Sejarah
Selama puluhan tahun, sejarah sering menempatkan perempuan hanya sebagai pendamping perjuangan. Padahal realitasnya jauh berbeda. Perempuan hadir sebagai guru, aktivis, pemikir, penggerak sosial, dan pendidik generasi.
Mereka menanamkan nilai kebangsaan di dalam keluarga ketika negara belum lahir. Mereka mendidik anak-anak agar mencintai tanah air ketika kemerdekaan masih menjadi cita-cita. Mereka menjaga semangat perjuangan saat banyak pejuang harus menghadapi tekanan penjajah.
Dalam perspektif ini, perempuan bukan pelengkap sejarah, melainkan salah satu penggerak utama sejarah Indonesia.
Selama puluhan tahun, sejarah sering menempatkan perempuan hanya sebagai pendamping perjuangan. Padahal realitasnya jauh berbeda. Perempuan hadir sebagai guru, aktivis, pemikir, penggerak sosial, dan pendidik generasi.
Mereka menanamkan nilai kebangsaan di dalam keluarga ketika negara belum lahir. Mereka mendidik anak-anak agar mencintai tanah air ketika kemerdekaan masih menjadi cita-cita. Mereka menjaga semangat perjuangan saat banyak pejuang harus menghadapi tekanan penjajah.
Dalam perspektif ini, perempuan bukan pelengkap sejarah, melainkan salah satu penggerak utama sejarah Indonesia.
Tantangan Baru Generasi Muda Perempuan
Jika generasi tahun 1928 menghadapi kolonialisme, maka perempuan muda hari ini menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Kemajuan teknologi membuka banyak peluang, tetapi pada saat yang sama melahirkan berbagai ancaman baru.
Kekerasan berbasis gender, perdagangan orang, eksploitasi digital, perkawinan anak, kesenjangan ekonomi, hingga meningkatnya tekanan kesehatan mental menjadi persoalan yang harus dihadapi oleh banyak perempuan muda Indonesia.
Ironisnya, tantangan tersebut sering kali tidak terlihat karena terjadi di ruang-ruang personal dan digital. Padahal dampaknya sangat besar terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Dari sudut pandang pergerakan perempuan, makna Sumpah Pemuda hari ini adalah keberanian untuk melawan berbagai bentuk ketidakadilan tersebut. Persatuan tidak boleh berhenti pada simbol. Persatuan harus diwujudkan melalui keberpihakan kepada kelompok yang masih mengalami ketimpangan.
Jika generasi tahun 1928 menghadapi kolonialisme, maka perempuan muda hari ini menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Kemajuan teknologi membuka banyak peluang, tetapi pada saat yang sama melahirkan berbagai ancaman baru.
Kekerasan berbasis gender, perdagangan orang, eksploitasi digital, perkawinan anak, kesenjangan ekonomi, hingga meningkatnya tekanan kesehatan mental menjadi persoalan yang harus dihadapi oleh banyak perempuan muda Indonesia.
Ironisnya, tantangan tersebut sering kali tidak terlihat karena terjadi di ruang-ruang personal dan digital. Padahal dampaknya sangat besar terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Dari sudut pandang pergerakan perempuan, makna Sumpah Pemuda hari ini adalah keberanian untuk melawan berbagai bentuk ketidakadilan tersebut. Persatuan tidak boleh berhenti pada simbol. Persatuan harus diwujudkan melalui keberpihakan kepada kelompok yang masih mengalami ketimpangan.
Membangun Indonesia dari Kepedulian
Pergerakan perempuan memiliki ciri khas yang berbeda. Jika banyak gerakan politik berangkat dari perebutan kekuasaan, gerakan perempuan sering berangkat dari pengalaman sehari-hari masyarakat.
Mereka hadir ketika ada anak putus sekolah. Mereka mendampingi korban kekerasan. Mereka memperjuangkan akses kesehatan ibu dan anak. Mereka menggerakkan ekonomi keluarga. Mereka terlibat dalam percepatan penurunan stunting. Mereka memastikan kelompok rentan tidak ditinggalkan.
Karena itulah, kontribusi perempuan terhadap bangsa sering tidak terlihat dalam sorotan besar sejarah, tetapi dampaknya sangat nyata dalam kehidupan masyarakat.
Kemajuan bangsa sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh pembangunan gedung, jalan, atau teknologi, tetapi juga oleh kemampuan melindungi manusia, terutama yang paling rentan. Dan dalam ruang inilah perempuan memainkan peran yang sangat penting.
Pergerakan perempuan memiliki ciri khas yang berbeda. Jika banyak gerakan politik berangkat dari perebutan kekuasaan, gerakan perempuan sering berangkat dari pengalaman sehari-hari masyarakat.
Mereka hadir ketika ada anak putus sekolah. Mereka mendampingi korban kekerasan. Mereka memperjuangkan akses kesehatan ibu dan anak. Mereka menggerakkan ekonomi keluarga. Mereka terlibat dalam percepatan penurunan stunting. Mereka memastikan kelompok rentan tidak ditinggalkan.
Karena itulah, kontribusi perempuan terhadap bangsa sering tidak terlihat dalam sorotan besar sejarah, tetapi dampaknya sangat nyata dalam kehidupan masyarakat.
Kemajuan bangsa sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh pembangunan gedung, jalan, atau teknologi, tetapi juga oleh kemampuan melindungi manusia, terutama yang paling rentan. Dan dalam ruang inilah perempuan memainkan peran yang sangat penting.
Menuju Satu Abad Sumpah Pemuda
Dua tahun lagi Indonesia akan memasuki peringatan satu abad Sumpah Pemuda. Momentum tersebut seharusnya menjadi saat yang tepat untuk merefleksikan kembali arti persatuan dalam konteks modern.
Persatuan bukan sekadar menyatukan perbedaan suku dan daerah. Persatuan juga berarti menciptakan kesempatan yang setara bagi perempuan dan laki-laki. Persatuan berarti menolak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Persatuan berarti memastikan tidak ada generasi muda yang kehilangan masa depan karena kemiskinan, diskriminasi, atau ketidakadilan.
Indonesia Emas 2045 hanya dapat terwujud apabila perempuan berada di dalamnya sebagai aktor pembangunan, bukan sekadar penerima manfaat pembangunan.
Dua tahun lagi Indonesia akan memasuki peringatan satu abad Sumpah Pemuda. Momentum tersebut seharusnya menjadi saat yang tepat untuk merefleksikan kembali arti persatuan dalam konteks modern.
Persatuan bukan sekadar menyatukan perbedaan suku dan daerah. Persatuan juga berarti menciptakan kesempatan yang setara bagi perempuan dan laki-laki. Persatuan berarti menolak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Persatuan berarti memastikan tidak ada generasi muda yang kehilangan masa depan karena kemiskinan, diskriminasi, atau ketidakadilan.
Indonesia Emas 2045 hanya dapat terwujud apabila perempuan berada di dalamnya sebagai aktor pembangunan, bukan sekadar penerima manfaat pembangunan.
Penutup
Pada peringatan 98 tahun Sumpah Pemuda, pergerakan perempuan mengingatkan kita bahwa perjuangan bangsa belum selesai. Penjajahan memang telah berakhir, tetapi ketidaksetaraan, kekerasan, dan berbagai bentuk diskriminasi masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Semangat para pemuda tahun 1928 harus diterjemahkan dalam bahasa zaman: keberanian melindungi yang lemah, memperjuangkan keadilan, menghormati martabat manusia, dan membuka ruang kepemimpinan bagi perempuan.
Sebab cita-cita Sumpah Pemuda bukan hanya tentang menyatukan Indonesia, tetapi juga memastikan bahwa setiap anak bangsa, termasuk perempuan, memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, bermimpi, dan berkontribusi bagi negeri.
Ketika perempuan maju, keluarga menjadi kuat. Ketika perempuan berdaya, masyarakat menjadi tangguh. Dan ketika perempuan diberi ruang untuk memimpin, Indonesia bergerak lebih dekat menuju cita-cita besar yang diikrarkan para pemuda 98 tahun lalu.
Pada peringatan 98 tahun Sumpah Pemuda, pergerakan perempuan mengingatkan kita bahwa perjuangan bangsa belum selesai. Penjajahan memang telah berakhir, tetapi ketidaksetaraan, kekerasan, dan berbagai bentuk diskriminasi masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Semangat para pemuda tahun 1928 harus diterjemahkan dalam bahasa zaman: keberanian melindungi yang lemah, memperjuangkan keadilan, menghormati martabat manusia, dan membuka ruang kepemimpinan bagi perempuan.
Sebab cita-cita Sumpah Pemuda bukan hanya tentang menyatukan Indonesia, tetapi juga memastikan bahwa setiap anak bangsa, termasuk perempuan, memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, bermimpi, dan berkontribusi bagi negeri.
Ketika perempuan maju, keluarga menjadi kuat. Ketika perempuan berdaya, masyarakat menjadi tangguh. Dan ketika perempuan diberi ruang untuk memimpin, Indonesia bergerak lebih dekat menuju cita-cita besar yang diikrarkan para pemuda 98 tahun lalu.







