Korban Tidak Hanya Membutuhkan Keadilan, Tetapi Juga Teman untuk Mendengar

Dra. Hj. Maya Rosida, M.M Ketua Umum GOW
Dra. Hj. Maya Rosida, M.M Ketua Umum GOW dan Pendamping UPIPA


Wonosobo, 19 Oktober 2026 – Kunjungan studi tiru GOW Kabupaten Lombok Tengah ke GOW Kabupaten Wonosobo menghadirkan banyak pembelajaran tentang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Namun di antara berbagai paparan program dan kelembagaan, terdapat satu momen yang paling menyentuh perhatian peserta.

Saat memaparkan unit kerja GOW Kabupaten Wonosobo, Ketua Umum GOW Kabupaten Wonosobo, Dra. Hj. Maya Rosida, M.M., secara khusus mengundang pendamping Unit Pelayanan Informasi dan Perlindungan Anak (UPIPA) GOW Kabupaten Wonosobo, Sri Sumaryati, untuk maju ke depan dan berbagi pengalaman tentang pendampingan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Di hadapan rombongan GOW Kabupaten Lombok Tengah, Sri Sumaryati menceritakan bahwa setiap kasus yang masuk memiliki tantangan dan dinamika yang berbeda. Tidak sedikit korban yang datang dalam kondisi trauma berat, takut berbicara, bahkan merasa bersalah atas kekerasan yang dialaminya.

Menurutnya, proses pendampingan selalu diawali dengan membangun kepercayaan korban. Pendamping harus mampu menciptakan suasana aman agar korban berani bercerita dan mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi.

"Sering kali yang pertama kami lakukan bukan bertanya tentang kasusnya, tetapi mendengarkan. Banyak korban hanya ingin didengarkan terlebih dahulu. Mereka membutuhkan keyakinan bahwa ada orang yang mau membantu dan tidak menghakimi mereka," tutur Sri Sumaryati.

Setelah korban bersedia membuka diri, UPIPA melakukan asesmen awal untuk memahami kondisi korban dan menentukan kebutuhan layanan yang diperlukan. Pendamping kemudian menghubungkan korban dengan berbagai layanan yang dibutuhkan, mulai dari layanan kesehatan, psikologis, bantuan hukum, hingga pendampingan dalam proses pelaporan dan persidangan apabila diperlukan.

Sri Sumaryati menjelaskan bahwa pendampingan tidak berhenti ketika laporan dibuat. Dalam banyak kasus, justru proses pemulihan korban membutuhkan waktu yang lebih panjang.

"Tugas kami bukan hanya mendampingi korban saat melapor. Kami mendampingi mereka sampai merasa kuat kembali, sampai berani menjalani kehidupan seperti sebelumnya. Setiap korban memiliki proses pemulihan yang berbeda-beda," ungkapnya.

Ia mengaku tidak jarang para pendamping harus meluangkan waktu di luar jam kerja untuk memastikan kondisi korban tetap terpantau. Bahkan dalam beberapa kasus, pendamping harus menjadi penengah antara korban, keluarga, dan berbagai pihak terkait agar penanganan dapat berjalan dengan baik.

Paparan tersebut membuat suasana forum menjadi hening. Para peserta terlihat menyimak dengan penuh perhatian ketika Sri Sumaryati menceritakan berbagai pengalaman yang dialaminya selama melakukan pendampingan.

Pada kesempatan itu juga disampaikan bahwa sepanjang tahun 2026, UPIPA GOW Kabupaten Wonosobo telah mendampingi sebanyak 57 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Angka tersebut menunjukkan bahwa layanan perlindungan masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Ketua Umum GOW Kabupaten Wonosobo, Dra. Hj. Maya Rosida, M.M., mengatakan bahwa sengaja menghadirkan pendamping UPIPA dalam forum studi tiru agar peserta tidak hanya melihat data dan program, tetapi juga memahami kerja nyata yang dilakukan di lapangan.

"Di balik angka 57 kasus itu ada 57 cerita kehidupan yang harus kita selamatkan. Ada perempuan yang harus dibangkitkan kembali rasa percaya dirinya. Ada anak-anak yang harus kita lindungi masa depannya. Karena itulah kami ingin menunjukkan bahwa perlindungan perempuan dan anak memerlukan ketulusan dan komitmen yang panjang," jelas Maya Rosida.

Menurutnya, para pendamping UPIPA merupakan garda terdepan dalam memberikan perlindungan kepada perempuan dan anak yang mengalami kekerasan. Meskipun bekerja tanpa banyak sorotan, keberadaan mereka sangat menentukan keberhasilan proses pemulihan korban.

"Mereka bekerja dengan hati. Terkadang harus mendengarkan cerita yang menyedihkan, harus ikut merasakan beban korban, tetapi tetap dituntut profesional dalam memberikan pendampingan. Inilah wajah nyata pengabdian yang selama ini dilakukan UPIPA GOW Wonosobo," tambahnya.

Bagi rombongan GOW Kabupaten Lombok Tengah, sesi berbagi pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian paling berkesan dalam kunjungan studi tiru. Selain memperoleh wawasan mengenai tata kelola organisasi, peserta juga mendapatkan gambaran nyata tentang pentingnya membangun sistem perlindungan perempuan dan anak yang berpihak pada korban.

Melalui pengalaman yang dibagikan Sri Sumaryati, peserta diajak memahami bahwa perlindungan terhadap perempuan dan anak bukan sekadar program, melainkan panggilan kemanusiaan yang membutuhkan kepedulian, kesabaran, dan keberanian untuk hadir bagi mereka yang membutuhkan pertolongan.

Like This Article ?

0 comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
 
 
Copyright © 2013 UPIPA GOW WONOSOBO - All Rights Reserved
Design By QVAA VEER KHAN - Powered By Blogger