PERCERAIAN ADALAH PILIHAN TERAKHIR

 

UPIPA GOW WONOSOBO



Pernikahan merupakan ikatan suci yang dibangun atas dasar cinta, komitmen, rasa saling menghormati, dan tanggung jawab. Setiap pasangan yang memasuki gerbang rumah tangga tentu berharap dapat menjalani kehidupan bersama dengan bahagia hingga akhir hayat. Namun dalam perjalanan kehidupan, tidak semua keluarga mampu melewati berbagai tantangan yang datang. Perbedaan karakter, persoalan ekonomi, kurangnya komunikasi, perselingkuhan, hingga kekerasan dalam rumah tangga sering kali menjadi sumber konflik yang dapat mengancam keutuhan keluarga.

Dalam situasi demikian, perceraian sering dianggap sebagai jalan keluar. Padahal, perceraian bukanlah solusi pertama yang harus dipilih ketika persoalan rumah tangga muncul. Perceraian seharusnya menjadi pilihan terakhir setelah berbagai upaya perbaikan hubungan, komunikasi, mediasi, dan konseling dilakukan secara sungguh-sungguh.

Data menunjukkan bahwa angka perceraian di Indonesia masih tergolong tinggi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sekitar 394.608 kasus perceraian terjadi di Indonesia sepanjang tahun 2024. Salah satu penyebab terbesar adalah perselisihan dan pertengkaran yang terus menerus, yang mencapai lebih dari 251 ribu kasus. Faktor ekonomi juga menjadi penyebab dominan dengan sekitar 100 ribu kasus, disusul oleh salah satu pihak yang meninggalkan pasangan, kekerasan dalam rumah tangga, perjudian, dan berbagai faktor lainnya. 

Angka tersebut memberikan gambaran bahwa banyak rumah tangga berakhir bukan semata-mata karena satu masalah besar, melainkan akumulasi persoalan yang tidak terselesaikan dengan baik. Kurangnya komunikasi yang sehat sering menjadi awal munculnya kesalahpahaman yang berujung pada konflik berkepanjangan.

Di Kabupaten Wonosobo, fenomena perceraian juga menjadi perhatian serius. Pengadilan Agama Wonosobo mencatat sekitar 2.635 pengajuan perkara perceraian sepanjang tahun 2024. Pada tahun berikutnya bahkan terjadi peningkatan jumlah perkara menjadi 2.815 kasus. Faktor ekonomi masih menjadi penyebab utama perceraian, disusul perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, dan munculnya kasus yang dipicu oleh perjudian daring (judi online). 

Tingginya angka perceraian tentu membawa dampak yang luas. Bukan hanya bagi pasangan suami istri, tetapi juga bagi anak-anak, keluarga besar, serta lingkungan sosial. Anak-anak yang mengalami perceraian orang tua sering menghadapi perubahan emosional yang berat, penurunan rasa aman, kesulitan belajar, bahkan masalah psikologis yang dapat berpengaruh hingga masa dewasa. Oleh karena itu, setiap keputusan yang berkaitan dengan kelangsungan rumah tangga perlu dipertimbangkan secara matang dan bertanggung jawab.

Meski demikian, penting dipahami bahwa mempertahankan pernikahan bukan berarti harus bertahan dalam situasi yang membahayakan. Dalam kondisi terdapat kekerasan fisik, kekerasan psikis, ancaman keselamatan, atau tindakan yang merendahkan martabat manusia, keselamatan dan perlindungan diri harus menjadi prioritas utama. Tidak seorang pun berhak menjadi korban kekerasan atas nama mempertahankan rumah tangga.

Karena itu, sebelum mengambil keputusan bercerai, beberapa langkah dapat diupayakan:

  1. Membiasakan komunikasi yang jujur, terbuka, dan penuh penghormatan.
  2. Mencari akar masalah secara bersama-sama tanpa saling menyalahkan.
  3. Melibatkan keluarga yang bijaksana sebagai penengah apabila diperlukan.
  4. Mengikuti konseling keluarga atau konsultasi dengan tenaga profesional.
  5. Memanfaatkan layanan pendampingan perempuan dan anak yang tersedia di daerah.
  6. Mengutamakan kepentingan dan masa depan anak dalam setiap keputusan.

Perceraian memang merupakan hak setiap pasangan yang menghadapi jalan buntu dalam rumah tangga. Namun keputusan tersebut hendaknya diambil secara dewasa, penuh pertimbangan, dan setelah seluruh upaya perbaikan dilakukan. Masyarakat perlu membangun budaya dialog, saling mendengarkan, dan menyelesaikan konflik secara sehat agar keluarga tetap menjadi tempat yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang.

Melalui edukasi keluarga yang berkelanjutan, penguatan nilai-nilai keluarga, peningkatan ketahanan ekonomi rumah tangga, serta layanan konseling yang mudah diakses, diharapkan angka perceraian dapat ditekan dan kualitas kehidupan keluarga di Indonesia maupun Kabupaten Wonosobo semakin baik.

Mari utamakan komunikasi, konseling, dan keselamatan dalam setiap keputusan. Perceraian bukanlah langkah pertama, melainkan pilihan terakhir ketika semua jalan perbaikan telah diupayakan dan tidak lagi memungkinkan untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga secara sehat dan bermartabat.

#UPIPA #UPIPAGOW #PERCERAIAN #WONOSOBO #KEKERASAN

Like This Article ?

0 comments

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.
 
 
Copyright © 2013 UPIPA GOW WONOSOBO - All Rights Reserved
Design By QVAA VEER KHAN - Powered By Blogger